Karya Literasi

Buku “Romantika Putih Biru” merupakan hasil karya para siswa SMP PGRI 5 Denpasar yang lahir dari kegiatan literasi sekolah. Antologi ini menggambarkan beragam kisah, perasaan, dan pengalaman remaja yang sedang menapaki masa putih biru—masa yang penuh warna, tawa, dan pembelajaran tentang kehidupan. Melalui bait-bait puisi, siswa menyalurkan ekspresi dan imajinasinya dengan jujur dan segar.
Karya ini bukan hanya hasil latihan menulis, tetapi juga bukti bahwa literasi mampu menumbuhkan keberanian berekspresi, berpikir kritis, serta kepekaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan keindahan bahasa. Terbitnya buku ini menjadi tonggak penting dalam membangun budaya literasi sekolah yang berkelanjutan dan menggembirakan.

Antologi “Goresan Lima Muda” merupakan kumpulan puisi karya siswa SMP PGRI 5 Denpasar yang lahir dari semangat berkarya dan cinta pada dunia sastra. Setiap goresan tinta di dalamnya memuat refleksi jiwa muda yang mencoba memahami kehidupan, persahabatan, dan cita-cita.
Melalui karya ini, para siswa belajar bahwa menulis adalah bentuk keberanian—keberanian untuk berpikir, merasa, dan menyampaikan gagasan kepada dunia. Buku ini juga menjadi simbol dari kerja kolaboratif antara guru dan siswa dalam menghidupkan ekosistem literasi sekolah. “Goresan Lima Muda” menandai bahwa literasi bukan sekadar kegiatan membaca dan menulis, tetapi juga proses membangun karakter, empati, dan identitas diri.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait